Learning English and Bahasa Indonesia

Hybrid Learning dengan Moodle


Pada pembahasan kali ini akan dibahas beberapa poin sebagai argumen subjektif penulis terkait penerapan atau pengaplikasian hybrid learning dengan Moodle yang didasarkan pada laporan hasil penelitian pada pengaplikasian hybrid learning dalam upaya peningkatan kecepatan baca dan pemahaman.

Setelah mengulas sekilas tentang hybrid learning dan pemanfaatannya dalam dunia pendidikan, pada kesempatan kali ini ada beberapa poin yang akan dibahas yang masih terkait dengan hybrid learning. Adapun poin inti yang akan dibahas pada artikel kali ini adalah tentang bagaimana hybrid learning dapat diaplikasikan dalam pembelajaran dengan menggunakan CMS/LMS Moodle sebagai media pembelajaran eletronik yang disandingkan dengan metode face to face.

Mengulang informasi yang telah dipaparkan pada artikel sebelumnya; istilah hybrid learning merujuk kepada pengkombinasian metode pembelajaran konvensional dengan pembelajaran berbasis teknologi. Popularitas metode ini telah diuji berdasarkan statement yang dituliskan oleh Wang dalam Eugenia (2007) yang menjelaskan bahwa perkembangan teknologi yang sangat pesat telah membuat institusi pendidikan tinggi mengadopsi hybrid learning dalam pembelajaran. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran hybrid learning memiliki potensi yang sangat besar untuk diterapkan dalam dunia pendidikan. Lalu, bagaimana strategi yang dapat diterapkan dalam pengaplikasiannya? Simak argumen subjektif penulis berikut ini. Sebelumnya, mari kita ulas beberapa variabel penting dibalik pengaplikasiannya.

Learning Management System (LMS)

Mengingat hybrid learning merujuk pada pembelajaran konvensional yang terintegrasi teknologi, maka dalam upaya mewujudkan pengaplikasian metode pembelajaran hybrid learning, setidak-tidaknya dibutuhkan sebuah portal pembelajaran online yang mampu meng-cover kebutuhan pembelajaran. Salah satu portal pembelajaran yang dapat dimanfaatkan adalah learning management system. Learning management system sendiri memiliki beberapa standar. Bannan-Ritland dikutip dalam Kats (2010, p. 2) menjelaskan 4 fitur utama yang wajib ada dalam sebuah learning management system. keempat fitur tersebut antara lain:
  • Content creation and display tools
Poin ini merujuk kepada kemampuan learning management system dalam pembuatan konten dan menampilkannya pada sebuah display. Sebuah learning management system atau LMS setidak-tidaknya harus memiliki abilitas untuk menyediakan sarana pembuatan konten pembelajaran dan menampilkannya dalam sebuah display.
  • Communication
Learning management system juga harus menyediakan fitur komunikasi; yaitu sarana yang dapat digunakan oleh instruktur atau pengajar dan pelajar untuk bertukar ide dan informasi baik secara real time atau synchronous maupun asynchronous. Synchronous merujuk kepada komunikasi langsung (chat, shareable web-browser, dll), sementara asynchronous merujuk kepada bentuk komunikasi tidak langsung (e-Mail, pengumuman, dll).
  • Assessment tools
Fitur selanjutnya adalah assessment tools atau alat penilaian. Sebuah LMS yang baik dan memenuhi standar harus memiliki fitur pengelolaan nilai yang dapat digunakan pelajar untuk mendistribusikan nilai kepada pelajar.
  • Administration
Fitur ini merujuk kepada alat administrasi berupa control panel yang dapat digunakan untuk menetapkan pengaturan standar terkait pengelolaan konten atau materi, pengelolaan file, komunikasi, alat penilaian, dll.

Moodle under Learning Management System

Salah satu portal yang dapat dimanfaatkan; yang memenuhi standar LMS yang telah dikemukakan diatas adalah Moodle (Modular Object-oriented Dynamic Learning Environment). Moodle adalah salah satu open-source LMS yang memiliki keempat fitur diatas. Selain itu, pengguna dimungkinkan untuk memodifikasi portal tersebut sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Moodle dapat dijalankan dengan dua cara; yaitu melalui koneksi AdHoc dan melalui internet. Jika dengan AdHoc, maka portal pembelajaran berbasis Moodle hanya dapat diakses pada area tertentu saja (localhost), sedangkan jika melalui internet, maka portal dapat diakses diseluruh dunia tanpa batasan tempat dan waktu. Terkait langkah instalasi Moodle telah dijelaskan pada artikel yang berjudul "Instalasi Moodle di Internet".

(Baca juga: Mengakses Situs Berbasis Moodle melalui Aplikasi Smartphone)

Pengaplikasian Hybrid Learning Method

Hybrid learning method dalam hal ini memanfaatkan CMS Moodle sebagai media pembelajaran yang kemudian disandingkan dengan face to face method. Tugas utama dari CMS Moodle adalah memuat dan menampilkan seluruh materi pembelajaran dan tugas (assignment) kepada siswa sementara penjelasan terkait materi-materi tersebut diberikan melalui metode tatap muka (face to face).

Dari kombinasi dua metode belajar ini, diharapkan kelebihan yang ditawarkan oleh e-Learning dapat disandingkan dengan kelebihan dari pembelajaran tatap muka sementara kelemahan yang dimiliki oleh metode e-Learning dapat diminimalisir atau bahkan dihilangkan dengan metode tatap muka.

Kelemahan e-Learning

Jika diterapkan sebagai single approach, maka e-Learning dapat memiliki beberapa kelemahan. Saglam dan Serth (2010) mengungkapkan bahwa emosi dan sikap negatif dituntukkan oleh siswa dalam pembelajaran terintegrasi teknologi. Pada penemuan lainnya dijelaskan bahwa pengaplikasian e-Learning menyebabkan terjadinya perasaan terisolasi yang ditunjukkan siswa.

Penulis berpendapat bahwa penerapan metode e-Learning sebagai single approach tidaklah disarankan mengingat selain aspek kognitif, terdapat pula aspek afektif yang belum dapat di-cover dalam pembelajaran terintegrasi media eletronik. Dengan kata lain, media eletronik dapat dijadikan sebagai sarana mengajar, bukan mendidik. Siswa membutuhkan didikan moral yang tidak cukup jika disampaikan melalui teori (Muhaimin Abdullah, 2012).

Kelebihan e-Learning

Muhaimin Abdullah (2012) mengungkapkan bahwa learning management system sebagai bagian dari e-Learning dipersepsi positif oleh mahasiswa dalam pembelajaran Translation. Siswa mengungkapkan bahwa mereka mendapatkan beberapa kemudahan dalam pembelajaran translation terintegrasi teknologi; pengumpulan tugas dan penilaiannya dapat dengan mudah dilakukan dan materi-materi dapat diakses kapan saja dan dimana saja.

Rahman, et al (2010) mengungkapkan bahwa learning management system sebagai portal pembelajaran berbasis e-Learning digunakan secara efektif oleh siswa. Penemuan penulis sebelumnya mendukung penemuan ini.